Konflik akan selalu terjadi kalau ada perbedaan. Entah itu perbedaan dalam keinginan, perbedaan harapan atau cita – cita. Bahkan yang sering sekali adalah perbedaan kepentingan. Oleh karena itu, dalam menyelesaikan setiap konflik, yang harus kita perhatikan adalah bagaimana kita menyikapinya, bukan berfokus kepada konfliknya.
Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam kondisi yang berbeda – beda. Manusia itu unik. Secara individual, manusia memiliki bakat, kemampuan, dan pengalaman, yang semua itu satu sama lain tidak sama persis dimiliki oleh setiap orang. Dalam hal ini, perbedaan harus disikapi dengan lumrah, karena biar bagaimanapun perbedaan itu akan selalu ada.
Perbedaan pandangan juga sering terjadi antara pemimpin dengan orang yang dipimpinnya. Seringkali keduanya tidak sejalan. Misalnya, ajakan pemimpin tidak diikuti oleh bawahannya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Semuanya memang tergantung kepada ajakannya. Pertama, kita harus siap, bahwa memiliki pemimpin ideal itu tidak mudah. Dalam menyikapi perbedaan yang terkadang berujung pada konflik tersebut, kurang lebih ada tiga kita sederhana yang bisa kita jadikan semangat untuk menemukan titik temu bersama, yaitu, semangat bersaudara, semangat solusi, dan semangat maslahat bersama.
Lalu mengapa dalam mengelola konflik ita harus bersemangat? Semangat itu “ruh”. Semangat itu “jiwa”. Dari semangat akan terlihat suasana hati yang sebenarnya. Pantulannya akan terlihat melalui tutur kata, raut wajah, gerak – gerik, bahkan sampai pada keputusan yang kita ambil saat kita berusaha mendapatkan titik temu dalam menyelesaikan sebuah konflik. Semangat inilah kiranya yang harus menjiwai perbuatan kita dalam merendakan konflik.
Semangat Bersaudara
Dalam menyelesaikan konflik, perselisihan, pertengkaran, atau situasi krisis apapun, semangat yang pertama yang harus ditumbuhkan ialah semangat bersauadara, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam Al Quran, ” Sesungguhnya orang – orang mukmin adalah bersaudara” (Q.S. Al Hujurat 49:10).
Penekanan pada semangat bersaudara ini penting karena dengan saudara kandung atau seiman pun, kita terkadang menyaikapi perbedaan justru dengan “semangat permusuhan”. Semangat permusuhan biasanya terlihat dari struktur kata yang kita ucapkan dan gerak – gerik atau bahasa tubuh kita saat berseteru.
Sering kita memperlakukan saudara kita sendiri sebagai musuh. Entah itu dengan penghinaa, caci maki, menghujat, menyebarkan aibnya, membeberkan kekurangannya, atau sampai merusak nama baiknya.
Bahkan semangat permusuhan itu tidak jarang samapi merusak kebahagiaan orang lain. Padahal mereka itu adalah saudara kita sendiri. Akibat lain dari semangat permusuhan ini akan tampak pada kehidupa sehari – hari kita.
Hidup jelas menjadi tak nyaman, hati tidak tenang dan gelisah. Raut wajah atau muka terlihat masam. Kata – kata yang terlontar tidak enak didengar, dan jauh dari kata – kata mulia.
Tindakan kita pun banyak mengarah pada kezaliman. Keputusan – keputusan yang dibuat tidak memperlihatkan keadilan. Dengan kata lain, masalah tidak akan segera selesai malah akan segera bertambah.
Surat al- hujurat ayat 10 diatas mengajarkan agar ketika kita berada di pusat konflik, iangat selalu bahwa kita ini bersaudara. Ishlah atau berdamai, Insya Allah akan menyebabkan rahmat Allah SWT. turun.
Rahmat Allah SWT itu bisa berupa ruh persaudaraan, jiwa persauadaraan, atau semangat bersaudara. Walaupun berbeda kelompok, organisasi keagamaan, atau partai, namuan mereka semau adalah saudara kita.
Ketika, berbelanja, sadarilah bahwa penjual itu saudara kita. Tidak p[erlu kita menawar rendah. Bukankah keuntungan dia juga keuntungan bagi kita sendiri?
Melihat guru kita, sadarilah bahwa mereka memiliki kekurangan dan kelebihan. Jangan terlalu berfokus kepada kekurangannya, karena walau bagaimanapun beliau saudara kita juga. Tidak ada guru yang sempurna. Seharusnya, dalam semangat bersaudara, kita beritahukan bagaimana menjadi guru yang mulia.
Semakin kita menganggap orang lain sebaga saudara, Insya Allah akan semakin tenang hati kita. Kalau kita memiliki semangat bersaudara, niat untuk mengahancurkan orang lain justru akan berbalik menjadi niat untuk membahagiakan orang lain yang notabene adalah saudara kita juga. Pendek kata, orang yang sudah diselimuti oleh semangat persaudaraan, sikapnya penuh kasih sayang dan tidak memvonis